Kifli: Adik-Adik, Jadilah Pemilih Cerdas yang Merdeka
|
TERNATE – Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Ternate, Kifli Sahlan, mengajak pemilih pemula di SMA Negeri 1 Kota Ternate menjadi pemilih yang merdeka dan cerdas dalam menentukan pilihan politik. Ajakan itu disampaikan Kifli saat menjadi pembina upacara di SMA Negeri 1 Kota Ternate, Senin, 21 September 2026, pagi tadi. Kehadiran Bawaslu dalam kegiatan tersebut sekaligus untuk memberikan sosialisasi kepemiluan kepada para siswa yang telah memasuki usia sebagai pemilih.
Kifli mengatakan, Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi. Karena itu, setiap tahapan pemilu harus berlangsung sesuai prinsip-prinsip demokrasi dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menggunakan hak pilih secara bebas. “Indonesia sendiri negara yang menganut paham demokrasi. Pertanyaannya, apakah setiap tahapan pemilu itu berlangsung secara demokratis atau tidak?” kata Kifli.
Menurutnya, salah satu bagian penting dalam demokrasi prosedural adalah adanya jaminan konstitusi terhadap hak warga negara untuk memilih. Termasuk bagi para siswa yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih. “Hak yang negara berikan kepada ade-ade (adik-adik) siswa adalah kemerdekaan dalam memilih pemimpin. Karena itu, saya ingin ade-ade memilih calon karena kemerdekaan memilih, bukan karena tekanan, bukan karena money politics,” tegasnya.
Kifli juga mengingatkan para siswa mengenai bahaya hoaks atau berita bohong yang saat ini sangat cepat menyebar, terutama melalui jejaring media sosial. Menurut dia, kecepatan penyebaran informasi dapat memengaruhi cara berpikir seseorang, termasuk dalam menentukan pilihan politik.
“Contohnya, pagi ini kalau ada seribu siswa yang sudah memposting agenda upacara ini, maka secara serentak orang akan mengetahui. Sangat cepat. Hal yang sama akan terjadi ketika ada banyak orang menyebarkan berita bohong, maka itu akan mengonstruksi pikiran pembaca,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta pemilih pemula tidak mudah terpengaruh informasi yang beredar dan tetap menggunakan hak pilih berdasarkan pertimbangan sendiri. Selain hoaks, Kifli mengingatkan siswa tentang praktik politik uang. Ia meminta pemilih pemula tidak menentukan pilihan hanya karena mendapatkan imbalan dari peserta pemilu.
“Uang jajan ade-ade selama lima tahun jauh lebih besar daripada praktik money politics yang memiliki impact sangat besar selama lima tahun,” ujarnya.
Kifli menegaskan, demokrasi tidak hanya diukur dari proses pencoblosan, tetapi juga dari bagaimana seseorang menentukan pemimpin. “Demokrasi tidak hanya diukur pada saat melakukan pencoblosan, tetapi bagaimana Anda memilih pemimpin. Kalau memilih pemimpin karena money politics, maka akan ada konsekuensi pidana,” katanya.
Ia juga mengingatkan para siswa bahwa menggunakan hak pilih merupakan hak konstitusional warga negara. “Ingat, memilih itu hak, bukan kewajiban. Pergunakan hak konstitusi melalui hak yang diberikan oleh UUD maupun UU Pemilu,” ujarnya.
Kifli berharap siswa yang telah berusia 17 tahun dan memenuhi syarat sebagai pemilih dapat menjadi pemilih yang mandiri, tidak mudah dipengaruhi, serta mampu menentukan pilihan secara cerdas. “Saya berharap, ade-ade yang sudah memiliki standar usia 17 tahun, yang sudah masuk usia pemilih, jadilah pemilih merdeka, jadilah pemilih cerdas,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Kifli juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala SMA Negeri 1 Kota Ternate beserta seluruh jajaran guru yang telah memberikan ruang kepada Bawaslu untuk menyampaikan edukasi kepemiluan kepada para siswa. (humas)
Editor: Nasarudin
Foto : Nasrul M. Kadir