Ketua Bawaslu Ternate Ingatkan Siswa SMKN 1: Jangan Memilih karena Uang
|
TERNATE – Ketua Bawaslu Kota Ternate, Kifli Sahlan, mengingatkan siswa SMKN 1 Kota Ternate yang nantinya menjadi pemilih pemula agar menggunakan hak pilih secara bebas dan tidak terpengaruh politik uang. Pesan tersebut disampaikan Kifli saat menjadi pembina upacara di SMKN 1 Kota Ternate, Senin (14/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Kifli menjelaskan bahwa demokrasi prosedural memberikan ruang kepada setiap warga negara untuk menentukan pemimpin melalui pemilihan umum, baik untuk memilih wali kota dan wakil wali kota, bupati dan wakil bupati, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, maupun presiden dan wakil presiden.
"Demokrasi prosedural itu berarti setiap warga negara dalam melakukan pergantian pemimpin dilakukan berdasarkan pemilu," kata Kifli.
Ia juga mengingatkan para siswa yang telah berusia 17 tahun untuk memastikan diri terdaftar sebagai pemilih. Menurutnya, basis seseorang untuk menggunakan hak pilih adalah daftar pemilih tetap (DPT). "Nah, untuk bisa memilih, basisnya adalah DPT, bukan domisili," ujarnya.
Kifli mengajak para siswa yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih agar menggunakan hak pilih secara mandiri dan tidak membiarkan hak politik mereka dipengaruhi pihak lain. "Saya mengajak adik-adik semua, kalau sudah berusia 17 tahun, maka adik-adik siswa sudah bisa memilih. Tidak boleh ada orang yang membatasi adik-adik untuk memilih," katanya.
Ia menegaskan, menjadi pemilih berarti memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan politik berdasarkan pertimbangan sendiri. Karena itu, pemilih pemula diminta tidak menjadikan uang sebagai alasan untuk menentukan pilihan.
"Kalau adik-adik sudah menjadi pemilih, maka jadilah pemilih yang merdeka. Jangan memilih karena uang. Satu-satunya hak yang tidak bisa dicabut oleh warga negara adalah kemerdekaan memilih," tegas Kifli.
Kifli juga mengingatkan siswa agar tidak terjebak dalam praktik politik uang. Ia menilai, pemberian uang dalam proses pemilu tidak sebanding dengan nilai hak suara yang dimiliki seorang warga negara. "Karena itu, jangan memilih karena money politics. Kalau ada yang memilih karena sudah menerima uang Rp200 ribu, itu lebih murah dari harga ayam kampung di pasar," ujarnya.
Menurut Kifli, pemilih seharusnya mengenali calon yang akan dipilih dengan melihat rekam jejak, program, serta visi dan misi yang ditawarkan. "Lalu bagaimana cara memilih calon? Harus dilihat rekam jejaknya, kenali programnya, dan kenali visinya," kata Kifli.
Di akhir kegiatan, Kifli menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah yang telah memberikan kesempatan kepada Bawaslu Kota Ternate untuk menyampaikan pesan-pesan kepemiluan kepada para siswa. "Terima kasih kepada kepala sekolah, para guru, dan seluruh siswa SMKN 1 Kota Ternate yang sudah menyediakan ruang untuk kami menyampaikan beberapa hal ini," tutupnya. (humas)
Editor/Foto : Nasarudin